Sabtu, 14 September 2019

Kisah 2 Klub Sepak Bola Tertua di Indonesia



Perjalanan panjang sepak bola Indonesia memang sungguh-sungguh menarik untuk disebutkan. Bukan cuma kelahiran Persatuan Sepakbola Semua Indonesia yang diketahui dengan PSSI, melainkan juga hadirnya klub-klub yang usianya lebih tua dibanding PSSI.

Sepak bola Indonesia bukanlah si kecil baru, sebab sejal era 1910-an, geliat balbalan di Indonesia telah mulai ramai. Dibawa oleh para bangsa penjajah, sepak bola di Indonesia telah mulai dimainkan oleh orang-orang pribumi.

Tercatat dua klub sepak bola tertua di Indonesia, ialah Rood-Wit di Batavia dan Vitoria di Surabaya menjadi embrio berkembangnya sepak bola di Indonesia. Rood-Wit yang berdiri pada tahun 1894 mulanya yakni klub kriket.

Tetapi, berkembangnya sepak bola di semua dunia, membikin Rood-Wit turut memainkan sepak bola. Itu juga dengan Vitoria yang memang murni klub sepak bola.

Seiring dengan populernya sepak bola, klub-klub pribumi bahkan mulai bermunculan. Klub-klub hal yang demikian walhasil menyusun suatu bond yang dalam pandangan masyarakat modern yakni klub secara keseluruhan.

Bond-bond tertua di Indonesia menyusun federasi sepak bola yang ketika itu bertujuan untuk pengorbanan kemerdekaan. PSSI walhasil terwujud berkat kerja keras bond-bond pribumi yang berharap berjuang untuk merdeka melalui sepak bola.

Saat PSSI berdiri, persaingan bahkan mulai digulirkan pada tahun 1931. Selepas tahun hal yang demikian, persaingan PSSI terus berjalan sampai kedatangan Jepang. Sempat terhenti, Persaingan PSSI kembali menggeliat semenjak ketika ini.

Beberapa besar bond tua masih berdiri sampai ketika ini. Pun sebagian di antaranya menjadi klub yang banyak disokong oleh masyarakat Indonesia. Keberadaan bond yang menjadi klub itu terus berjalan. Sampai sekarang, klub hal yang demikian masih dapat kita lihat kiprahnya di sepak bola Indonesia.

PSM Makassar (1915)
Lahir pada 2 November 1915 dengan nama Makassar Voetbal Bond, PSM Makassar yakni klub tertua di Indonesia. Perjalanan panjangnya bahkan sepatutnya dikenal oleh para penikmat sepak bola Indonesia.

MVB ketika itu tak murni berisikan orang-orang pribumi, sebab para jajarang pengurusnya diisi oleh campuran keturunan Belanda dengan pribumi autentik. Sedangkan demikian, MVB yakni motor pelopor sepak bola di tanah Sulawesi.

Semenjak kedatangan Jepang medio 1940-an, MVB mengalami kelimbungan. Pengurus-pengurus MVB yang keturunan Belanda dicokok dan pribumi diciptakan romusha. Dengan situasi seperti itu, praktis MVB lumpuh sempurna. Ketika itulah, Jepang mengubah seluruh nama Belanda menjadi Indonesia demi menarik simpati. MVB bahkan berubah menjadi Persatoean Sepakbola Makassar yang kita ketahui sebagai PSM.

Pada era sesudah kemerdekaan, PSM mulai mengontrol kembali roda organisasi. Achmad Saggaf, Ketua PSM ketika itu, mengerjakan roda persaingan internal yang teratur. Kecuali itu, PSM bahkan mulai membuka diri dengan klub-klub di pulau Jawa dan PSSI.

Semenjak ketika itulah, komunikasi dengan PSSI terbuka lebar. Pesepak bola autentik Makassar bahkan mulai mendapatkan kepercayaan untuk menggambarkan kemampuanya di persaingan PSSI. Bintang PSM bahkan bermunculan, salah satu yang melegenda yakni Ramang.

PSM pada era Ramang pernah berjaya tahun 1957 dengan menjuarai persaingan PSSI. Semenjak ketika itulah PSM menjadi salah satu klub kuat di Indonesia. Gelar hal yang demikian menjadi pembukan gelar-gelar pemenang lainnya. Juku Eja sampai ketika ini telah mendapatkan enam kali gelar pemenang dan yang terakhir direbut pada Liga Indonesia 2000.

Sampai sekarang kiprah PSM terus berjalan. Aksi Juku Eja masih dapat diamati dalam persaingan Torabika Soccer Championshiop 2016 presented by IM3 Ooredoo.

PPSM Sakti Magelang (1919)
PPSM Magelang terlahir dengan nama Belanda, ialah Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM). Bond atau perkumpulan IVBM didirikan oleh seorang pribumi bernama Wihardjo dan dibantu dengan empat klub, Mosvia, Stramvogels, HKS, dan Among Rogo.

Latar belakang IVBM yakni orang-orang terpelajar. Karena itu tidak lepas dari Mosvia yang yakni klub bentukan siswa-siswa Sekolah Pegawai Pangreh Praja yang dapat dibilang sekolahnya calon abdi kota. Lalu HKS yakni klub yang didirikan oleh siswa-siswa calon guru di Magelang.

Setelah latar belakang itulah, IVBM menjadi salah satu pelopor pengorbanan Indonesia lewat sepak bola. IVBM pada tahun 1925 merubah namanya menjadi Persatuan Paguyuban Sepakbola Magelang (PPSM). PSSM juga menjadi salah satu bond pendiri PSSI pada tahun 1930. Tokoh intelektual mereka, ialah EA Mangindaan, yakni kapten PPSM sekalian siswa sekolah guru yang bernaung di klub HKS.

EA Mangindaan bersama perwakilan bond pendiri PSSI lainnya, hadir dan menjadi wakil Magelang dalam rapat-rapat penyusunan PSSI. Melainkan PSSI terwujud, PPSM bahkan mempunyai hak mencontoh rangkaian persaingan PSSI.

Sangat, nama PPSM kurang mentereng bila dibandingi dengan Persis Solo atau VIJ Jacatra. Saat mirip seperti Pro Vercelli, klub tua di Italia, PPSM lebih banyak berkutat di persaingan kasta bawah Indonesia.

Prestasi terbaik PPSM diukir pada 1935. Ketika itu, PPSM ikut serta berkompetisi dengan klub-klub kuat seperti Persis, PSIM, dan VIJ. Sayangnya, PPSM cuma meraih peringkat ketiga. Mereka tidak kapabel menaklukkan kedigdayaan Persis dan VIJ yang memang sedang berkompetisi sebagai yang terbaik di Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar